Saat matahari petang bercanda tawa
Tiba senja datang abadi kita
Tapi saat lampu kota menyala kita berpisah karena beda selera
Tak ada kabarmu, terakhir hanya tulisan itu yang menemaniku sampai saat ini, ingin menanyakan tetapi enggan karena aku tau ku bukan siapa-siapa mu, hanya sebatas kata "teman" i guess.
Mungkin hanya aku yang perduli, karena aku egois tidak memikirkan perasaanmu yang tenggelam kecewa padaku. Aku tak pernah melihat ada seseorang yang dekat padamu. Sehingga aku semakin yakin dalam dekapmu rindukan aku tapi kamu tak sadar siapa itu, karena aku hanyalah bayang semu yang sekedar lewat dan tinggal selamanya terabaikan di belakang gelapmu.
"hai"
"Hai" sapanya
"Rabu malam sibuk?"
"Belum ada agenda, kenapa?"
"Captain Marvel atau Mile 22"
"Ada apa dengan dua film itu?"
"Nonton, aku ingin mengajak mu nonton"
"Ooh, kamu lucu, kenapa ga to the point aja sih haha"
"Hemmm, biar langsung kamu pilih, karena aku ga mau nonton selain dua film itu haha"
"Emang aku mau diajak nonton sama kamu? Haha"
"Feeling ku si mau"
"Hmm, salah, aku nda mau haha"
"Owh, padahal aku yang traktir dan sudah terbeli tiketnya"
"Poor you, next time ya"
"Oke" berjalan keluar
"Eh, tunggu, bercanda kalik, iya aku mau"
Berpaling dan mendekat ke arahnya "seriusan, yes, oke nanti aku jemput jam 8"
"Emang kamu beli tiket apa, kan aku belum tau mau nonton apa"
"Aku sudah beli tiket karcis parkiran si haha, nanti kita beli disana aja kamu yang pilih filmnya hehe"
"Sial jadi aku di candain juga nih"
"Yeeeeeee maap" mencubit pipinya
"Bete deh"
"Jangan bete" mengecup dahinya
"Bodo"
Dan berpelukan